Jakarta (KABARIN) - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut nyeri dada atau chest pain sebagai salah satu gejala khas Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada anak, terutama yang sudah lebih besar.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, Dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp. G.H (K), menjelaskan bahwa pada anak, gejala GERD dapat muncul berupa rasa nyeri di dada bagian bawah, tepat di bawah tulang dada, yang kerap disertai sensasi seperti terbakar hingga ke area ulu hati.
“Pada anak yang lebih besar, gejala tipikal GERD adalah nyeri dada atau chest pain,” ujarnya dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.
Ia menambahkan, keluhan tersebut biasanya akan semakin terasa setelah makan atau ketika anak berbaring. Kondisi ini berkaitan dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan.
Sri juga mengungkapkan bahwa sejumlah kebiasaan dapat meningkatkan risiko GERD pada anak dan remaja, seperti makan berlebihan, makan menjelang waktu tidur, serta konsumsi makanan pedas, berlemak, dan minuman bersoda secara rutin.
Karena itu, ia menyarankan agar anak tidak makan setidaknya tiga jam sebelum tidur untuk membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal dan mengurangi risiko gejala.
Selain faktor kebiasaan, GERD juga lebih berisiko terjadi pada anak dengan kondisi tertentu, seperti gangguan neurologis, atresia esofagus, hernia diafragmatika, obesitas, penyakit paru kronis, serta kelainan saluran napas seperti laringomalacia dan trakeomalacia.
Penanganan GERD pada anak dilakukan sesuai kondisi masing-masing, mulai dari wawancara medis dan pemeriksaan fisik, identifikasi tanda bahaya, perubahan gaya hidup dan pola makan, hingga pemberian obat penekan asam lambung.
Jika keluhan tidak membaik, pasien dapat dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan pencernaan untuk pemeriksaan lanjutan seperti endoskopi dan pemantauan pH esofagus.
Pada kondisi tertentu, penanganan dapat dilanjutkan dengan terapi lanjutan seperti pemberian makan melalui jalur khusus (transpyloric feeding) hingga tindakan operasi anti-refluks bila diperlukan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026